TAUKAH KAMU MITOS DAN FAKTA MINAT & BAKAT?

Hai haii haiii BestiSmart. Balik lagi nih sama MinSmart yang akan memberikan berbagai macam informasi seputar psikologis manusia. Nah, beberapa artikel sebelumnya MinSmart sudah membahas berbagai macam seputar minat bakat. Mulai dari definisi, cara mengembangkan minat bakat, seputar alat tes minat bakat, hingga cerita inspiratif dari salah satu tokoh yang sukses karirnya di bidang yang ia minati. Artikel kali ini, MinSmart akan membahas seputar mitos dan fakta seputar minat dan bakat. Kira-kira apa aja sih mitos-mitos seputar minat dan bakat yang biasa ada disekitar kita. Yuk kita baca artikelnya sama-sama!

Di era digital seperti sekarang ini penyebaran informasi berlangsung begitu pesat. Terutama penyebaran informasi melalui media sosial perlu diperiksa kembali mengenai kebenarannya karena maraknya berita bohong atau yang sering disebut dengan “Hoax”. Begitu juga informasi mengenai minat dan bakat, terdapat beberapa mitos yang tersebar di kalangan masyarakat yang perlu kita luruskan, yaitu:

  1. Minat dan Bakat itu sama

Beberapa orang menganggap bahwa minat dan bakat itu sama hanya karena kedua kata tersebut sering disandingkan secara bersamaan. Faktanya secara definisi antara minat dan bakat saja sudah berbeda. Ringkasnya, minat adalah ketertarikan individu terhadap sesuatu atau kegiatan yang cenderung berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Hal ini disebabkan karena karena beberapa faktor, seperti lingkungan, bertambahnya usia, skala prioritas, pengalaman baru, dan lain-lain. Sedangkan bakat cenderung lebih stabil karena faktor genetik, potensi alamiah dan pengalaman awal saat kecil.

  1. Bakat tidak perlu di asah

Karena bakat berasal dari faktor genetik atau merupakan bawaan alamiah individu, terdapat berbagai persepsi yang mengatakan bahwa bakat tidak perlu diasah. Padahal fakta nya, bakat tetap perlu diasah, distimulasi dan juga dikembangkan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh individu. 

  1. Anak berbakat di jamin sukses

Bakat alamiah yang dimiliki individu seringkali membuat orang sekitar berpikir bahwa individu tersebut pasti sukses di masa mendatang. Sebagai contoh, anak yang berbakat dibidang akademik seringkali dipandang akan terjamin kesuksesan nya dikarenakan kecerdasannya yang sulit tersaingi oleh teman-teman sebayanya. Namun faktanya, banyak faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan selain dari bakat, yaitu ketekunan dalam mengasah potensi, kedisiplinan, motivasi yang tinggi untuk mencapai tujuan, kreativitas, lingkungan sekitar, dukungan sosial, akses sumber daya seperti pendidikan, finansial dan teknologi, dan lain-lain. Bakat merupakan salah satu dari beberapa faktor internal untuk meraih kesuksesan, namun banyak faktor lain yang dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan individu. 

  1. Tidak Berbakat maka tidak sukses

Memiliki teman sebaya atau teman sekelas yang berbakat dibidang akademik terkadang membuat beberapa siswa merasa insecure atau tidak percaya diri karena menganggap bahwa anak berbakat sudah ditakdirkan cerdas sejak lahir. Padahal salah satu tokoh pendidikan dan psikologi yaitu Gardner (dalam Machali, 2014) mengungkapkan bahwa manusia memiliki sembilan macam kecerdasan yang berbeda-beda atau yang sering disebut sebagai Multiple Intelligence (MI), yaitu: kecerdasan linguistic, kecerdasan matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musical, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial. 

Gardner berpendapat bahwa setiap individu memiliki semua kecerdasan itu, namun kecerdasan tersebut bekerja secara berbeda-beda pada individu. Hal ini membuat setiap individu terlahir secara unik dengan berbagai keunggulan yang dimiliki masing-masing individu. Dan untuk kesuksesan sudah dijelaskan sebelumnya bahwa banyak faktor lain yang diperlukan untuk menunjang kesuksesan.

  1. Anak berbakat mudah beradaptasi dan selalu berperilaku baik

Anak-anak berbakat sering kali dianggap dapat diandalkan dan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bakat yang mereka miliki pun membuat persepsi atau ekspektasi Masyarakat terhadap mereka untuk selalu berperilaku baik di lingkungan. Padahal faktanya, anak berbakat pun sama dengan anak-anak sebaya lainnya. Mereka juga mengalami tantangan juga tugas perkembangan sepanjang hidupnya. Sama seperti anak-anak lainnya, anak berbakat juga harus menghadapi tantangan sosial dan emosional. Justru, anak berbakat dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi cenderung memiliki perasaan cemas dan perfeksionis yang lebih tinggi hingga mereka cenderung memiliki Tingkat stress yang lebih tinggi. Maka sebagai orang sekitar khususnya keluarga, sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan emosional anak berbakat untuk memberikan ruang aman untuk mengungkapkan kekhawatiran mereka. 

Nah itulah pembahasan seputar mitos dan fakta dari minat dan bakat. Jadi BestieSmart tidak keliru lagi ya dalam beberapa persepsi yang ada di Masyarakat. Semoga bermanfaat!

Referensi

Machali, I. (2014). Dimensi kecerdasan majemuk dalam kurikulum 2013. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan19(1), 21-45.

Maggie Downs. (2024). Myths About Gifted Students. UCR Extension. (diakses 10 Oktober 2024) https://extension.ucr.edu/features/mythsaboutgiftedstudents 

959 komentar untuk “TAUKAH KAMU MITOS DAN FAKTA MINAT & BAKAT?”

  1. So, I checked out 9eee. It’s… interesting. Different from what I usually play, but caught my interest. Might sink a few more hours into it. See what all the fuss is about with 9eee.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *